berdiri sendiri

Ketika harus berdiri di atas kaki sendiri, jalan manakah yang harus kita pilih,

mungkinkah ada pilihan untuk kembali?

Advertisements

Image

Teruntuk semesta yang penuh dengan enigma dan tanda tanya.

Agaknya saya ingin bercerita, tentang kisah yang mungkin sudah cukup lama terpendam.

Tentang hidup yang terkadang terlalu mengikat, sampai saya tercekik dibuatnya,

waktu yang berputar terlalu cepat, dan saya yang melewatkannya begitu saja,

atau mungkin sekedar berbagi tentang manusia yang hilang arah, bahkan mungkin tak tahu jalan pulang.

Lalu, kadang saya bertanya-tanya, apa mungkin hidup hanya sekedar sayembara? Siapa yang menang, adalah dia yang bisa memecah enigma, dan menjawab banyak pertanyaan  Bagaimana dengan si kalah? Hanya mendapat resah lalu hampa?

Ah.. sepertinya saya mulai paham, kenapa manusia terkadang merasa terlalu lelah untuk sekedar bertanya.

Semesta, maukah kamu membantu saya mengurai rasa melalui kata?

Dingin Tak Tercatat

Dingin tak tercatat

pada termometer

Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai

mengusir, tapi kita tetap saja

disana, Seakan-akan

gerimis raib

dan cahaya berenang

mempermainkan warna

Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?

Goenawan Moehamad, 1971 

Mungkin, pikiran kita adalah pedang bermata dua,

menafsirkan, juga menjerumuskan.

Impianmu, menjebak.

Pikiranmu, mencengkeram,

dan akhirnya, kamu tidak bisa pergi kemana-mana.

Kasihan,

merasa bisa mendapatkan semuanya,

padahal yang didapat hanyalah hampa.

Ada puisi tentang bayangan yang selalu menghilang ketika cahaya lekang.

Ada kisah tentang sayap, yang tak pernah lelah walau terus mengepak.

Ada dongeng tentang penari, yang tetap menari walaupun musik telah mati.

Ada cerita yang tidak bisa aku pahami dengan pasti,

cerita tentang kita,

yang selalu terpendam dalam hati.