kalau sampai sa…

kalau sampai saat ini saya belum tau apa itu sebenarnya yang dinamakan rumah,

lalu kemana saya harus pulang?

Advertisements

Selamat Hari Ayah, Papa

Hari Ayah sudah lewat beberapa hari, dan saya baru menyadari kalau saya belum mengucapkan selamat hari Ayah untuk Papa saya. Jadi, saya memutuskan untuk mengucapkan selamat kepada Papa melalui tulisan ini. Lagipula, sudah beberapa kali saya menulis tentang mama saya, tetapi sepertinya seingat saya, saya jarang menulis tentang Papa.

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya dan Papa mempunyai wajah yang sangat mirip, setelah dilihat-lihat, iya juga sih. Wajah kami bulat, sama-sama mempunyai benjolan di batang hidung, bibir kecil, dan ukuran kaki pun sama-sama kecil :))) . Tapi kata orang tua zaman dulu, biasanya yang mempunyai wajah yang mirip itu sering bertengkar. Dan percaya tidak percaya, hal itu terjadi pada saya dan Papa. Saya seringkali berdebat, bahkan untuk hal-hal yang tidak penting sekalipun.

Tapi meskipun saya sering bertengkar dengan Papa, saya tau Papa sangat sayang sama saya. Papa selalu, selalu, selalu, menelefon saya ketika saya pulang malam, walaupun terkadang hal itu rasanya mengganggu, tapi lama kelamaan jika Papa tidak menghubungi saya rasanya aneh, dan tidak jarang saya yang menghubungi Papa untuk sekedar bertanya “kok aku ga dicariin sih?”

Papa adalah Papa yang pengertian, dulu saya pernah bertengkar dengan pacar saya dan saya mau mengirimkan surat untuk dia. Terus Papa mengantarkan saya memberikan surat itu, tanpa bertanya apa-apa, hanya tersenyum saja dan mau menunggu sekitar satu jam hingga surat itu bisa diberikan. Manis banget kalau diingat-ingat lagi.

Waktu saya masih sekolah, Papa selalu menyempatkan mengantar saya ke sekolah, padahal jarak sekolah ngga jauh dari rumah. Padahal dengan mengantar saya, Papa harus tergesa-gesa untuk siap-siap pergi ke kantor. Lalu ngga jarang, saat jam makan siang Papa jemput saya pulang sekolah untuk makan siang bersama.

Papa selalu mengajarkan saya untuk selalu belajar dan bekerja keras. Dan saya tau, bahwa Papa sudah bekerja dengan sangat keras untuk bisa membuat keluarga saya hidup layak dan berkecukupan.

Di momen Hari Ayah ini, saya hanya ingin menyampaikan terimakasih kepada Papa untuk semua kerja kerasnya, nasihatnya dan kasih sayangnya selama 19 tahun ini. Meskipun saya ngga pernah bilang ini dan banyak pertengkaran diantara kami berdua, saya sayang Papa. saya berjanji suatu saat saya akan membuat Papa bangga memiliki anak seperti saya.

Selamat Hari Ayah, Papa.

papa 🙂

Pilihan

kalau saja saya bisa menyimpan pilihan

dan memilihnya di masa depan,

di waktu yang saya anggap tepat,

rasanya saya tidak punya alasan

untuk merasa ragu lagi.

Sepertinya,

aku hanya berilusi.

karena, kita ada di ruang yang berbeda.

kamu bukan pilihan.

Asa

Saya rindu menembus hujan,

tanpa peduli akan petir atau dingin yang menusuk tulang,

tak harus hiraukan rambut atau pakaian yang dikenakan.

Saya rindu rasa senang akan hujan,

berlari dan tertawa diantara rintikan air yang terasa indah.

Dan hari ini hujan turun membelah senja,

membisikkan satu hal

Asa.

Selamat Pagi, Pagi.

Saya selalu suka saat dimana saya bisa menikmati pagi,

menyeruput teh hangat dari sebuah gelas tinggi, sambil memakan roti.

Membaca koran atau sejenak menonton televisi untuk melihat sisi lain dari dunia ini.

Saya selalu suka semua cara pagi membuka hari.

Entah dengan kabut, embun, ataupun mentari.

Hari ini, pagi dibuka dengan mendung tebal yang menyelimuti langit.

Disaat orang lain berteriak “hei pagi! ayo cepat kembalikan mentari!”

hati saya berkata lain,

“Halo, selamat pagi, Pagi. Terimakasih untuk semua energi yang selama ini kau beri untuk menjalani hari.”