Mungkin, pikiran kita adalah pedang bermata dua,

menafsirkan, juga menjerumuskan.

Impianmu, menjebak.

Pikiranmu, mencengkeram,

dan akhirnya, kamu tidak bisa pergi kemana-mana.

Kasihan,

merasa bisa mendapatkan semuanya,

padahal yang didapat hanyalah hampa.

Advertisements

Ada puisi tentang bayangan yang selalu menghilang ketika cahaya lekang.

Ada kisah tentang sayap, yang tak pernah lelah walau terus mengepak.

Ada dongeng tentang penari, yang tetap menari walaupun musik telah mati.

Ada cerita yang tidak bisa aku pahami dengan pasti,

cerita tentang kita,

yang selalu terpendam dalam hati.

Terlalu banyak kata yang tidak bisa terucap,

pun juga begitu dalam semua yang tidak pernah terungkapkan.

Entah bagaimana caranya untuk terbebas dari rasa yang tidak mengikat, namun terasa mempenjarakan.

Tidak butuh selalu untuk tetap bersama,

tidak butuh disini untuk selalu berdua.

Bagiku, yang dibutuhkan hanyalah cerita

tentang apa yang membuat kita tertawa,

atau bagaimana itu membuat kamu mengeluarkan air mata.

Sekedar bertukar cerita.

Itu saja.

Karenanya tulisan ini aku persembahkan.

Indera

Bagiku si penikmat senja, kali ini tidak ada yang berbeda, senja yang berwarna jingga dan lapangan rumput yang masih terlihat kehijauan. Tidak jauh dari pendopo tempat aku biasa menghabiskan senja, terlihat dua orang yang sedang berjalan menuju arahku.

Mereka berjalan perlahan sambil terlihat bertukar cerita, sesekali mereka tertawa, lalu terdiam, mengobrol lagi, lalu terdiam tampak memandang ke sekelilingnya. Mereka tampak sangat menikmati senja ini, tidak ada yang berbeda dengan mereka, pikirku, mereka hanya dua manusia penikmat senja, sama sepertiku.

Semakin mendekat, aku semakin bisa melihat apa yang mereka lakukan, ternyata mereka adalah dua orang tuna netra. Mereka berjalan tanpa tongkat, tanpa kacamata, tanpa alat bantu yang biasa tuna netra gunakan. Sekilas, mereka tampak.. normal. mereka duduk tidak jauh dariku.

tak tahan, aku bertanya,

“apakah kalian tidak kesusahan berjalan tanpa alat bantu?”

“alat bantu? tongkat maksudmu?”

“hmmm, salah satunya”

“kenapa harus menggunakan alat bantu buatan manusia jika masih ada indera pemberian Tuhan yang bisa kami manfaatkan?”

“apa itu cukup?”

“dengan indera yang masih tersisa, kami tetap bisa menikmati hidup kami. kami bisa menggunakan indera peraba untuk menunjukan jalan, mendengarkan suara angin dengan telinga, mencium wangi tanah basah sehabis hujan atau menikmati makanan-makanan enak”

“kehilangan penglihatan, bukan berarti kami tidak bisa menikmati hidup, justru kami lebih bisa memaknai hidup.”

Aku merasa tertohok mendengar perkataan mereka. karena aku yang sering menyia-nyiakan indera yang aku punya, untuk hal-hal yang kemudian hanya lewat sekelebat mata.

langit senja sudah berubah menjadi gelap, dan saat itu juga aku sadar, bahwa senja kali ini tidak sama seperti biasanya, senja kali ini membawa banyak makna, bagaimana kita harus bersyukur atas Karunia-Nya.

Mereka berbisik, dia mendengar

Kamu berbicara, dia mendengar

Kalian berteriak, dia tetap mendengar.

Mendengar, mendengar, mendengar,

Terasa sangat akrab,

di telinganya.

Mendengar,

mungkin hanya itu kesempatan yang terbuka untuknya.

Tanpa ada orang yang mendengarkan dia bicara,

atau sekedar bertanya apa yang ada dalam pikirannya.