Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa berartinya Bandung bagi saya. 19 tahun hidup saya dihabiskan di kota ini, kota kecil yang entah kenapa tetap nyaman, walaupun penuh hiruk pikuk yang bertambah setiap harinya. Bandung, kota kecil penuh cerita yang terangkum di setiap sudut-sudutnya. Kenangan itu mengikat, dan kesan itu menghangatkan. Mungkin karena itu, saya tidak pernah betah meninggalkan Bandung terlalu lama.

Bandung memang tidak seperti dulu, sebagai orang awam dalam bidang tata kota, saya melihat pembangunan kota ini belum jelas arahnya. Bandung yang dulu dijadikan kota peristirahatan, sekarang mulai berubah arah menjadi kota hiburan dan (mungkin) metropolitan. Para pendatang dari luar kota terus berdatangan, dan disaat kemacetan seolah menjadi rutinitas kami –warga kota Bandung- maka kami sadar bahwa Bandung memang telah berubah menuju sebuah kota yang “baru”. But, if home is where the heart is, then Bandung is my home, a place where my heart has always been.

Selamat merayakan ulang tahun ke 201, Bandung. Semoga selalu menjadi kota yang genah, merenah dan tumaninah 🙂

Mamih

Halo Mamih,

apa kabar, Mih? apa rasanya surga? pasti bagus banget..

Mamih, jangan marah ya, aku sekarang nangis bukan karena dimarahin Mama atau berantem sama Hardi kok, Mih. Aku nangis karena aku kangen banget sama Mamih.

Aku kangen makan bareng di katamso setiap akhir minggu,

Aku kangen ‘dicetek-cetek’ kepalanya sama Mamih,

Aku kangen nonton TV sambil meluk Mamih atau nyubit-nyubit kulit Mamih yang keriput,

Aku kangen denger cerita-cerita Mamih tentang Papih,

Aku kangen tidur sama Mamih,

Aku kangen semua hal tentang mamih.

Maaf ya Mih, akhir-akhir ini aku terlalu sok sibuk untuk ngedoain Mamih. Janji ga akan gitu lagi.

Kami semua disini baik-baik aja, Mih.

Aku sekarang udah semester tiga, Mas Bowo udah lulus kuliah, Mba Anggi kemarin baru aja melahirkan.

Aneh rasanya ga ada Mamih ditengah-tengah kehidupan kami. Sedih kalau inget kita udah ga bisa berbagi kebahagiaan lagi. Tapi aku tau, pasti Mamih selalu merhatiin kami dari atas sana. Iya kan, Mih?

Mamih pasti disana seneng bisa bareng terus sama Papih ya? Sampaikan salam aku untuk Papih ya, Mih. Aku sayang Papih, walaupun aku belum pernah ketemu sama Papih.

Mamih, aku tau aku ga perlu bilang ‘baik-baik disana’ untuk Mamih, soalnya Mamih orang baik, dan Allah pasti ngejaga Mamih.

Jangan ragu untuk main ke mimpi aku ya, Mih. Aku pengen meluk Mamih, cerita-cerita sama Mamih walaupun cuma dalam Mimpi.

Aku sayang banget sama Mamih.

Semoga nanti kita semua bisa kumpul lagi di surga. Amin.

Peluk&Cium

Nindy