Tentang Bersyukur

Dulu ketika masih sekolah, saya selalu berpikir bahwa rezeki itu hanya melulu soal materi. Saya selalu tidak sabar untuk menunggu awal bulan, saat saya  diberikan uang saku oleh orang tua atau saat lebaran, waktu dimana keluarga saya bagi-bagi angpau yang jumlahnya lumayan. Setelah saya mendapat uang itu, saya selalu berpikir tentang hal-hal yang bisa saya beli kemudian, biasanya seputar buku, baju atau bahkan peralatan elektronik terbaru.

Lalu ada satu waktu, saya merasa iri dengan teman saya yang kehidupannya tampak bahagia. Selain cantik, teman saya ini sering jalan-jalan ke luar negeri, dan selalu pakai barang-barang bermerek dari kepala sampai kaki.

Sempat terlintas di benak saya, kenapa saya tidak bisa mempunyai hidup seperti itu?

Hingga tibalah saat dimana saya melanjutkan pendidikan master, yang mengharuskan saya tinggal sendiri di tempat yang sama sekali asing dan jauh dari orang-orang terdekat. Fase hidup tersebut menyadarkan saya, bahwa ternyata rezeki itu tidak hanya sekedar materi, tapi jauh lebih bermakna dari itu.

Memiliki badan yang sehat, orang tua yang menyayangi kita, keluarga & sahabat yang selalu ada, dan waktu yang cukup untuk melakukan hal-hal yang kita suka adalah rezeki yang tidak boleh luput kita syukuri.

Saya bersyukur dikaruniai badan yang sehat. Karena sakit, terlebih lagi ketika kita berada ribuan kilometer jauhnya dari rumah, itu menyedihkan.

Saya jadi menghargai setiap bentuk komunikasi saya dengan orang tua saya. Juga menjadi rajin mendoakan kesehatan & keselamatan mereka, karena rindu & berharap bisa berkumpul kembali ketika saya pulang nanti.

Saya bersyukur atas perasaan haru yang datang ketika ada pesan singkat atau video call dari sahabat-sahabat saya hanya untuk bertukar kabar dan bercerita tentang kehidupan yang mungkin terlewat.

Dan tidak lupa, saya bersyukur untuk waktu yang cukup untuk beristirahat di tengah kesibukan kuliah yang seakan tanpa henti dan kesempatan untuk rehat sejenak meskipun ‘hanya’  ke kota-kota terdekat.

Hal-hal sederhana itu menyadarkan saya, bahwa rasa iri saya terhadap teman saya itu tidak ada artinya. Saya selama ini hanya terlalu sombong untuk menyadari bahwa berkah Tuhan kepada saya itu sungguh melimpah.

Di fase hidup itu saya paham bahwa yang membuat kita kuat dalam menjalani hidup itu bukan materi, melainkan hal-hal sederhana yang tidak ternilai harganya kalau kita mau belajar memaknainya.