Pagi Itu

Satu chat Whatsapp dari sahabatku membuka pagiku hari itu.

“Mukamu sekarang jauh lebih tua daripada umurmu”.

“Sialan ini pasti karena postinganku kemarin”

“Well… :)”

Walaupun jarang bertemu, jarak selalu tidak berhasil membuat kita menjauh. Kita sering mengobrol sampai lupa waktu. Denganmu, aku bisa membicarakan apa saja; berita terkini, situasi politik, filosofi hidup, percintaan atau bahkan gossip selebriti picisan.

Kamu selalu menjadi orang pertama yang aku hubungi ketika aku punya cerita. Tidak jarang, obrolan kita berakhir dengan perdebatan. Tapi buatku tidak masalah, obrolan denganmu memang tidak selalu berakhir menyenangkan, tapi pasti menyegarkan.

Pagi itu, kita membicarakan tentang waktu. Bagaimana aku menyukai pekerjaanku yang menuntutku berpacu dengan waktu, dan bagaimana kamu justru berusaha melupakan waktu.

Katamu, kerap kali mengingat waktu hanya membuatmu lupa untuk menikmati hidup.

Kamu juga berbicara mengenai manusia yang kebanyakan hanya sibuk berjalan ke depan terlalu cepat, karena mereka merasa dikejar waktu. Tapi mereka lupa, bahwa banyak pemandangan di sekitar yang terlalu indah untuk dilewatkan. Kadang, mereka juga terlalu angkuh untuk melihat ke belakang, mereka rasa mereka sudah pintar dan masa lalu hanya akan membawa penyesalan. Padahal katamu, kadang melihat ke belakang itu penting untuk memberi tau sudah berapa jauh kita jalan ke depan.

Lalu kamu mengakhiri ‘ceramahmu’

“Jangan terlalu sibuk berpacu dengan waktu sampai lupa menikmati hidup. Bukankah hidup itu hanya satu kali?”

Advertisements