beberapa hari yang lalu, seperti biasa saya membuka twitter, dan saat itu saya membaca tweet salah satu teman saya, dia menulis “fu*k indonesia” dan saat itu entah kenapa ada rasa pahit yang terbersit di hati saya.

19 tahun hidup saya dihabiskan disini,  Indonesia. Saya hidup di lingkungan keluarga yang gemar membaca dan juga menonton berita, dan semenjak saya mengerti apa yang saya baca di surat kabar ataupun juga yang saya lihat di televisi, saya sadar bahwa banyak hal yang tidak mengenakkan mengenai Indonesia atau hal-hal yang terjadi di dalam Indonesia. Intensitas berita-berita tidak mengenakkan itu mengalahkan berita baik, entah karena memang tidak ada atau hanya tidak terliput saja.

Saya tidak munafik, saya pun tidak jarang merasa lelah dengan keadaan negeri ini. Perkembangan kota yang tidak beraturan dan sistem pembelajaran yang lebih mengedepankan hasil daripada proses itu beberapa hal yang membuat saya berpikir untuk (suatu saat) meninggalkan Indonesia.  Rasanya saya ingin segera mengumpulkan uang, lalu membawa keluarga saya pindah ke negara yang (mungkin) lebih baik dari Indonesia.

Tapi lalu saya berpikir, rasanya terlalu picik jika saya meninggalkan Indonesia begitu saja, terlalu tega jika saya mengeluhkan keadaan Indonesia yang sudah saya pijak selama ini. Selama 19 tahun saya menghirup udara Indonesia, hidup di tanah Indonesia dan makan dari apa yang ada di Indonesia. Terlalu jahat jika saya selalu marah akan keadaan Indonesia, ingin meninggalkan Indonesia, padahal di sisi lain, saya belum berbuat apa-apa untuk Indonesia.

Saat menulis ini, diam-diam hati saya berjanji, bahwa suatu saat, dengan ilmu dan kemampuan saya, saya akan berbuat sesuatu untuk Indonesia, untuk membantu Indonesia ke arah yang lebih baik. Membalas budi kepada Indonesia, yang telah menerima dan memberikan banyak hal kepada saya selama ini.

Selamat Hari Ayah, Papa

Hari Ayah sudah lewat beberapa hari, dan saya baru menyadari kalau saya belum mengucapkan selamat hari Ayah untuk Papa saya. Jadi, saya memutuskan untuk mengucapkan selamat kepada Papa melalui tulisan ini. Lagipula, sudah beberapa kali saya menulis tentang mama saya, tetapi sepertinya seingat saya, saya jarang menulis tentang Papa.

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya dan Papa mempunyai wajah yang sangat mirip, setelah dilihat-lihat, iya juga sih. Wajah kami bulat, sama-sama mempunyai benjolan di batang hidung, bibir kecil, dan ukuran kaki pun sama-sama kecil :))) . Tapi kata orang tua zaman dulu, biasanya yang mempunyai wajah yang mirip itu sering bertengkar. Dan percaya tidak percaya, hal itu terjadi pada saya dan Papa. Saya seringkali berdebat, bahkan untuk hal-hal yang tidak penting sekalipun.

Tapi meskipun saya sering bertengkar dengan Papa, saya tau Papa sangat sayang sama saya. Papa selalu, selalu, selalu, menelefon saya ketika saya pulang malam, walaupun terkadang hal itu rasanya mengganggu, tapi lama kelamaan jika Papa tidak menghubungi saya rasanya aneh, dan tidak jarang saya yang menghubungi Papa untuk sekedar bertanya “kok aku ga dicariin sih?”

Papa adalah Papa yang pengertian, dulu saya pernah bertengkar dengan pacar saya dan saya mau mengirimkan surat untuk dia. Terus Papa mengantarkan saya memberikan surat itu, tanpa bertanya apa-apa, hanya tersenyum saja dan mau menunggu sekitar satu jam hingga surat itu bisa diberikan. Manis banget kalau diingat-ingat lagi.

Waktu saya masih sekolah, Papa selalu menyempatkan mengantar saya ke sekolah, padahal jarak sekolah ngga jauh dari rumah. Padahal dengan mengantar saya, Papa harus tergesa-gesa untuk siap-siap pergi ke kantor. Lalu ngga jarang, saat jam makan siang Papa jemput saya pulang sekolah untuk makan siang bersama.

Papa selalu mengajarkan saya untuk selalu belajar dan bekerja keras. Dan saya tau, bahwa Papa sudah bekerja dengan sangat keras untuk bisa membuat keluarga saya hidup layak dan berkecukupan.

Di momen Hari Ayah ini, saya hanya ingin menyampaikan terimakasih kepada Papa untuk semua kerja kerasnya, nasihatnya dan kasih sayangnya selama 19 tahun ini. Meskipun saya ngga pernah bilang ini dan banyak pertengkaran diantara kami berdua, saya sayang Papa. saya berjanji suatu saat saya akan membuat Papa bangga memiliki anak seperti saya.

Selamat Hari Ayah, Papa.

papa 🙂

lihat sekitarmu,

bersyukurlah sebanyak yang kau mampu.

karena Tuhan tidak pernah memberi kabar,

kapan roda kehidupan akan  berputar.